Skateboard di Era 80-an vs 90-an: Budaya yang Tak Pernah Mati
Fajar Shid - Wednesday, 15 October 2025 | 08:16 AM


Ngapel - Skateboard bukan hanya olahraga ekstrem — ia adalah budaya. Dari jalanan Los Angeles hingga gang sempit kota-kota dunia, papan empat roda ini telah membentuk gaya hidup, mode, hingga cara berpikir generasi muda.
Tapi jika kita menilik sejarahnya, dua dekade paling berpengaruh dalam perjalanan skateboarding adalah tahun 1980-an dan 1990-an. Keduanya menandai dua fase penting: lahirnya identitas skate modern dan transformasinya menjadi budaya global.
Mari menelusuri bagaimana dunia skate berubah dari dekade ke dekade — dan mengapa semangatnya tak pernah benar-benar mati.
Era 1980-an: Dari Kolam Renang Kosong ke Skatepark
Awal 1980-an menjadi masa kebangkitan kedua skateboard setelah sempat meredup di akhir 70-an. Saat itu, para skater muda di California seperti Tony Alva, Stacy Peralta, dan kelompok legendaris Z-Boys mulai menciptakan gaya baru: vert skating — meluncur di dinding kolam renang kosong yang kemudian berkembang menjadi half-pipe dan bowl.
Era ini ditandai oleh:
- Papan lebar dengan ekor panjang, cocok untuk trik di permukaan vertikal.
- Pelindung penuh (helmet, knee pad, elbow pad) jadi bagian dari gaya.
- Video skate VHS pertama mulai beredar, memperkenalkan gaya skate profesional ke dunia.
Skateboard di era ini masih erat dengan kultur punk dan musik hardcore. Band seperti Black Flag dan Suicidal Tendencies menjadi soundtrack alami bagi skater, menggambarkan semangat perlawanan dan kebebasan.
Namun, karena skatepark mulai mahal dan banyak yang ditutup, para skater mulai kembali ke jalanan — tempat di mana kreativitas tidak mengenal batas.
Era 1990-an: Lahirnya Street Skateboarding
Masuk ke tahun 90-an, skateboarding mengalami revolusi besar. Jika era 80-an didominasi vert ramp, maka era 90-an adalah masa kejayaan street skating.
Skater seperti Rodney Mullen, Daewon Song, dan Eric Koston mengubah cara orang melihat papan skate — bukan hanya alat untuk meluncur, tapi juga sarana seni di ruang publik. Trottoar, tangga, pegangan besi, dan tepi trotoar menjadi “arena” baru.
Ciri khas skateboard era 90-an:
- Papan lebih ramping dan ringan.
- Trik teknikal seperti kickflip, heelflip, dan grind mulai populer.
- Sepatu skate tebal dan longgar, merek seperti Vans, DC, dan Etnies jadi ikon mode jalanan.
- Video skate profesional seperti Girl Skateboards’ “Mouse” dan Plan B’s “Virtual Reality” menjadi sumber inspirasi bagi komunitas dunia.
Di sinilah skateboard benar-benar berubah menjadi budaya urban global. Anak muda mulai mengidentifikasi diri bukan hanya sebagai atlet, tapi juga bagian dari gaya hidup alternatif.
Musik, Mode, dan Sikap: DNA Skate yang Tak Lekang Waktu
Baik di era 80-an maupun 90-an, skateboarding selalu erat dengan musik dan mode.
- Era 80-an: identik dengan punk rock dan kaus band.
- Era 90-an: dipengaruhi oleh hip-hop dan grunge, dengan pakaian longgar, celana baggy, dan hoodie oversize.
Skater selalu menjadi simbol kebebasan dan ketidakterikatan pada aturan. Mereka tidak mengikuti tren — mereka menciptakan tren.
Dari sini pula lahir filosofi khas:
“Skateboarding isn’t a sport — it’s a way of life.”
Media dan Komunitas: Dari Majalah ke Internet
Peran media sangat besar dalam perkembangan skateboard di kedua era ini. Pada 80-an, majalah seperti Thrasher dan TransWorld Skateboarding menjadi “kitab suci” bagi skater.
Sementara di 90-an, munculnya video skate profesional dan siaran MTV membuka akses lebih luas. Bahkan di Indonesia, video-video tersebut sering jadi bahan tontonan di rental VCD atau komunitas skate lokal yang mulai tumbuh di Bandung, Jakarta, hingga Bali.
Generasi ini melahirkan banyak komunitas yang masih eksis sampai sekarang — membuktikan bahwa budaya skate tidak pernah benar-benar hilang, hanya berevolusi.
Warisan Skateboard: Semangat yang Tetap Hidup
Kini, skateboard telah masuk ke ajang Olimpiade dan diakui sebagai cabang olahraga resmi. Namun di balik semua itu, ruh sejatinya masih sama seperti dulu: kebebasan, kreativitas, dan keberanian untuk jatuh dan bangkit.
Para skater era baru mungkin sudah berlatih di skatepark modern dengan sepatu canggih, tapi nilai-nilai yang dibawa dari era 80-an dan 90-an tetap terasa:
- Do it yourself (DIY) spirit
- Komunitas yang terbuka
- Dan rasa percaya diri tanpa batas di atas papan kecil beroda empat.
Penutup
Baik era 80-an yang liar maupun 90-an yang teknikal, keduanya meninggalkan warisan besar: skateboard sebagai simbol kebebasan dan ekspresi diri. Dari kolam renang kosong hingga trotoar kota besar, dari punk hingga hip-hop, skateboarding terus bergerak tanpa pernah kehilangan jiwanya.
Budaya skate tak pernah benar-benar mati — hanya berganti generasi, dari papan ke papan, dari jalan ke jalan. Dan selama masih ada anak muda yang berani jatuh untuk belajar, semangat itu akan terus hidup.
Next News

Brand Lokal Skateboard: Bukti Kreativitas Jalanan Anak Negeri
4 months ago

Era 2020-an: Skateboarding Jadi Bagian dari Lifestyle & Olimpiade
4 months ago

Era 2010-an: Skateboarding di Era Digital & Media Sosial
4 months ago

Era 2000-an: Skateboard Menjadi Pop Culture Global
4 months ago

Era 90-an: Street Skateboarding Menguasai Dunia
4 months ago

Skateboard Era 70-80an: Dari Surfing Jalanan Hingga Budaya Punk
5 months ago

Skateboard dari Masa ke Masa: Nostalgia 70-an Sampai Teknologi Modern
5 months ago

Market Statistik Skateboard Global & Indonesia Tahun 2025: Apa yang Bisa Diambil Untuk Skater & Brand Lokal
5 months ago

Tren Skateboard Ramah Lingkungan: Inovasi atau Sekadar Gaya?
5 months ago

Meliuk Lincah: Kisah Bunga Citra, Skater Muda Inspiratif
5 months ago